Seperti yang
kita tau Jepang merupakan salah satu negara maju yang memiliki pendidikan yang
luar biasa. Setiap lulusan nya pasti memiliki pencapaian yang besar. Dari
pencapaian terbut terdapat fakta-fakta unik dari pendidikan di negara sakura
ini. berikut ulasan mengenai fakta unik pendidikan negara jepang.
Hampir semua sekolah di Jepang mengharuskan siswanya memakai seragam. Tidak ada standar baku tentang bentuk seragamnya, tetapi secara garis besar berupa baju hitam untuk siswa laki-laki, dan baju sailor dengan rok untuk siswa perempuan dengan potongan sederhana. Kebijakan ini bertujuan menanamkan ide bahwa ketika siswa memakai baju yang sama, mereka akan merasa menjadi bagian satu sama lain. Juga ada stigma yang berkembang bahwa daripada mengurusi tentang penampilan, para pelajar hendaknya fokus belajar saja. Banyak sekolah di Jepang yang mempunyai aturan ketat mengenai apa yang harus dipakai para siswa, termasuk tas, riasan, bahkan potongan rambut.
Siswa memakan makanan sama secara
teratur
Kecuali siswa yang mempunyai alergi serius, siswa di Jepang harus memakan menu sehat yang telah disediakan di sekolah. Siswa diajarkan untuk mengkonsumsi makanan sehat dengan cara mengutamakan bahan makanan dan porsi makanan yang masuk ke perut mereka. Menu disusun oleh koki berpengalaman bersama ahli gizi profesional. Secara umum, menu makan siang di sekolah seringnya terdiri dari bahan makanan lokal yang segar. Uniknya, para guru ikut makan siang bersama siswa. Hal tersebut dilakukan untuk menguatkan hubungan guru dan murid.
Kecuali siswa yang mempunyai alergi serius, siswa di Jepang harus memakan menu sehat yang telah disediakan di sekolah. Siswa diajarkan untuk mengkonsumsi makanan sehat dengan cara mengutamakan bahan makanan dan porsi makanan yang masuk ke perut mereka. Menu disusun oleh koki berpengalaman bersama ahli gizi profesional. Secara umum, menu makan siang di sekolah seringnya terdiri dari bahan makanan lokal yang segar. Uniknya, para guru ikut makan siang bersama siswa. Hal tersebut dilakukan untuk menguatkan hubungan guru dan murid.
Seni adalah mata pelajaran utama
Siswa-siswa di Jepang diajarkan seni tradisional seperti Shodo
(seni menulis indah atau kaligrafi Jepang) dan Haiku (salah satu jenis puisi).
Dua seni tradisional tersebut diajarkan agar siswa menghargai budaya
tradisional.
Tidak ada ujian dalam 3 tahun
pertama sekolah
Kebijakan tidak memberikan ujian pada siswa sampai mereka menginjak kelas 4 adalah karena orang Jepang lebih menghargai perilaku baik daripada nilai. Menurut budaya Jepang, lebih utama mengajarkan adab kepada siswa di kelas rendah daripada fokus mengetes kemampuan akademik mereka. Karena itu, karakter siswa harus lebih dulu dibangun. Siswa harus bisa menunjukkan rasa hormat kepada sesama siswa, juga pada gurunya.
Kebijakan tidak memberikan ujian pada siswa sampai mereka menginjak kelas 4 adalah karena orang Jepang lebih menghargai perilaku baik daripada nilai. Menurut budaya Jepang, lebih utama mengajarkan adab kepada siswa di kelas rendah daripada fokus mengetes kemampuan akademik mereka. Karena itu, karakter siswa harus lebih dulu dibangun. Siswa harus bisa menunjukkan rasa hormat kepada sesama siswa, juga pada gurunya.
Tidak ada tukang bersih-bersih,
siswa yang bertugas membersihkan lingkungan sekolah
Siswa di Jepang harus membersihkan sendiri ruangan kelas dan kamar mandi. Tujuannya adalah agar siswa belajar bekerja sama, berbagi tanggung jawab, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas sekolah. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang piket bergiliran mengerjakan tugas-tugas, seperti menyapu, mengelap kaca jendela, menggosok WC, dsb. Setiap tahun kelompok tersebut dirombak dan digilir kembali.
Siswa di Jepang harus membersihkan sendiri ruangan kelas dan kamar mandi. Tujuannya adalah agar siswa belajar bekerja sama, berbagi tanggung jawab, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas sekolah. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang piket bergiliran mengerjakan tugas-tugas, seperti menyapu, mengelap kaca jendela, menggosok WC, dsb. Setiap tahun kelompok tersebut dirombak dan digilir kembali.
Membaca menjadi sebuah budaya yang
sudah mendarah daging
Rahasia utama kecerdasan orang Jepang. Bagi orang Jepang, membaca merupakan salah satu aktivitas yang tidak boleh terlewatkan. Sesibuk apapun mereka, pasti akan meluangkan waktunya untuk membaca, entah itu saat di kereta, menunggu bus maupun saat istirahat. Seperti kebanyakan remaja di Indonesia, buku novel adalah bacaan favorit mereka
Rahasia utama kecerdasan orang Jepang. Bagi orang Jepang, membaca merupakan salah satu aktivitas yang tidak boleh terlewatkan. Sesibuk apapun mereka, pasti akan meluangkan waktunya untuk membaca, entah itu saat di kereta, menunggu bus maupun saat istirahat. Seperti kebanyakan remaja di Indonesia, buku novel adalah bacaan favorit mereka
Materi pelajaran sesuai dengan
porsinya
Kalau kita ingin membandingkan dengan sistem mengajar di Indonesia, memang nampaknya agak sedikit berbeda. Di Indonesia, anak SD sudah dihajar dengan buku-buku tebal, rumus-rumus matematika yang memusingkan dan sebagainya. Berbeda dengan Jepang yang memberi pembelajaran sesuai dengan usia siswa. Untuk anak TK, lebih dikembangkan lewat aktivitas bermain dan budi pekerti. Untuk anak SD juga tidak jauh berbeda dengan TK, hanya saja untuk siswa di tingkat SD sudah mulai diperkenalkan bahan ajar seperti matematika, bahasa Jepang, olahraga dan kesenian tetapi masih dengan porsi yang ‘wajar’ dan lebih menekankan pendidikan moralnya, tidak seperti di Indonesia yang memaksa anak-anak hanya untuk menguasai begitu banyak mata pelajaran dengan pendidikan budi pekerti yang terkesan disepelekan.
Kalau kita ingin membandingkan dengan sistem mengajar di Indonesia, memang nampaknya agak sedikit berbeda. Di Indonesia, anak SD sudah dihajar dengan buku-buku tebal, rumus-rumus matematika yang memusingkan dan sebagainya. Berbeda dengan Jepang yang memberi pembelajaran sesuai dengan usia siswa. Untuk anak TK, lebih dikembangkan lewat aktivitas bermain dan budi pekerti. Untuk anak SD juga tidak jauh berbeda dengan TK, hanya saja untuk siswa di tingkat SD sudah mulai diperkenalkan bahan ajar seperti matematika, bahasa Jepang, olahraga dan kesenian tetapi masih dengan porsi yang ‘wajar’ dan lebih menekankan pendidikan moralnya, tidak seperti di Indonesia yang memaksa anak-anak hanya untuk menguasai begitu banyak mata pelajaran dengan pendidikan budi pekerti yang terkesan disepelekan.
Untuk mata pelajaran IPA, IPS dan
bahasa Inggris baru mulai diperkenalkan pada jenjang SMP. Dan, untuk jenjang
SMA sebenarnya hampir sama dengan di Indonesia bahwa ada mata tes masuk dan
program penjurusan sesuai minat dan kemampuan siswa.
Jepang merupakan negara dengan luas daratan yang terbilang kecil namun berpenduduk padat. Oleh karena itu, sekolah-sekolah di Jepang sebisa mungkin mengelola lahan yang sempit untuk membuat tempat parkir, salah satunya adalah membuat tempat parkir sepeda bertingkat. Bersepeda merupakan salah satu kebiasaan orang Jepang yang menyehatkan sekaligus bebas polusi. Tetapi, ada beberapa pilihan alternatif pergi ke sekolah yaitu dengan berjalan kaki, naik kendaraan umum maupun naik mobil jemputan.